Why do bad things happen to good people?


Why do bad things happen to good people? We ask that question so often it’s become a cliche. But that’s because bad things do happen to good people, constantly. You just have to hope when it’s your turn, you’ll know what to do, how to cope, how to persevere. But the truth is, you don’t know how you will react to a worst case scenario. None of us do, not until it happens.
- Meredith Grey from Grey's Anatomy



Bulan ketiga tahun dua ribu enam belas.


Aku menengok beberapa hari yang lalu, di akhir bulan lalu, ketika teman-temanku datang ke rumahku beramai-ramai, membawakan nyanyian yang akrab kudengar setiap tahun. Kali ini berbeda, dinyanyikan oleh orang-orang yang baru aku kenal. Ajaibnya meski belum lama, aku merasa mereka adalah saudaraku.

Bulan ketiga tahun dua ribu enam belas.


Aku bersyukur dan bertanya, siapakah aku ini sehingga aku diberikan berkat sebanyak ini? Siapakah aku di mata sang penciptaku, sehingga Dia melayakkan aku untuk menerima semua ini? Dia mengirimkanku orang-orang yang begitu mengasihi aku, Dia melayakkanku untuk tertawa dan tersenyum bersama mereka.

Bulan ketiga tahun dua ribu enam belas.


Begitu banyak tawa yang aku luapkan, membuatku bertanya, mengapa aku bisa sebahagia ini? Belum lama aku merenungkannya, kemudian datanglah suatu bayang cobaan yang membuatku harus melepaskan sesuatu yang dahulu membuatku merasa gembira. Kembali aku merasakan rasa itu, rasa yang membuatku merasa tak berharga dan layak ditinggalkan. Kata orang, setiap halo datang dengan sampai jumpa. Kali ini, sampai jumpa itu tak tahu sampai kapan.

Bulan ketiga tahun dua ribu enam belas.


Bulan itu dimulai dengan sangat baik, tidak kusangka akan berakhir dengan begitu buruk. Nafasku tak selancar dulu, tubuhku semakin lemas dari hari ke hari. Orang-orang yang akhir bulan lalu berkumpul itu, merekalah yang membantu aku bangkit. Dan orang-orang yang sudah lama tak berjumpa denganku juga. Orang-orang yang baru ku kenal sejenak pun. Aku ingat bagaimana seorang demi seorang hadir ke kamarku, tempatku membentuk bentengku sendiri, terlalu malu untuk keluar darinya karena wajahku yang tak dapat tersenyum seperti aku yang biasanya. Seorang demi seorang datang, mengajakku pergi makan, melihatku semakin kurus dari hari ke hari. Mereka yang mendoakanku meski kepada Tuhan yang berbeda-beda. Seorang demi seorang, mereka yang menggenggam tanganku, memelukku ketika aku sendiri. Seorang demi seorang, meneleponku dari jauh, untuk menanyakan kabarku yang pada waktu itu sangat buruk. Seorang demi seorang, mengirimkanku kata-kata penyemangat dan motivasi. Seorang demi seorang, mendengarkan curhatku yang tidak sebentar.

Bulan keempat tahun dua ribu enam belas.


Sampai jumpa itu telah berubah menjadi selamat tinggal. Tidak ada sampai jumpa. Aku memilih untuk tidak kembali.

Sore hari itu, angin berhembus dengan lembut di dalam rumah di dekat hutan di sebuah kota di timur kota tempat tinggalku. Aku berdiri di sana bersama seorang ibu. Seorang ibu yang aku kenal sudah cukup lama, meskipun dia bukan ibuku, aku merasa dia menyayangi aku seperti anaknya sendiri.

“Kadang memang Tuhan mengijinkan hal-hal seperti ini terjadi, supaya kita ingat sama Dia. Kalau manusia bahagia terus, bisa jahat nanti, lupa sama penciptanya.” - katanya dengan lembut. Aku melihat matanya dengan seksama, dia mengajakku untuk berdoa bersama, dia mengajarkanku untuk memaafkan dan memiliki hati yang berserah. Dia mengajarkanku untuk percaya bahwa tak ada yang terjadi di luar rencana indah Tuhan. Aku menggenggam tangannya yang kecil dan lembut. Aku melihat cincin di jari manis kanannya. Aku melihat foto yang dipasangnya di dalam ponselnya. Sungguh hebat ibu ini, karena ia terus setia meski telah sendiri, dan semangatnya untuk terus berbuat baik kepada sesama tidak pernah surut meskipun ia sering dirundung kesedihan.

Beberapa hari kemudian, aku memberanikan diri untuk keluar dari rumah sendiri. Aku bercerita dengan angin sambil mengendarai motor pink ku. Perjalananku terhenti pada sebuah desa di Yogyakarta. Angin berhembus kencang kemudian hujan turun dengan deras, namun aku tidak mempedulikannya. Aku turun dari motorku, mengenakan jas hujan kemudian berjalan keliling kampung. Aku lihat rumah-rumah sederhana itu, dengan jalan yang cukup sempit untuk 2 orang melintas bersamaan. Aku melihat kentongan di masjid yang bergoyang dan membuat suara “klotak-klotak”. Aku terhenti pada sebuah rumah dengan atap yang cukup tinggi dengan pintu kayu hijau yang terlihat baru diperbarui catnya. Aku berteduh di situ, memandang ke depan, sebuah rumah yang kondisinya tak baik lagi. Di situ ada 2 kursi yang sudah rusak busanya, sebuah boneka yang sudah rusak, dan sebuah meja kayu kecil di sebelahnya. Hujan mulai berubah menjadi gerimis, membuatku dapat mendengar apa yang terjadi di sekitarku. Di sela samar-samar gerimis itu, aku mendengar tawa anak-anak dari rumah seberang. Ah, mereka mungkin sedang bermain bersama, pikirku. Aku pun berjalan ke jalan raya dan kemudian pulang dengan motorku.

Sejak hari itu, aku tak lagi mengurung diri di kamarku. Akhir minggu itu aku memutuskan untuk ikut bersama teman-temanku untuk kembali mengajar di desa. Aku berangkat dengan kondisi tubuh yang tak sehat. Badanku demam dan aku menggigil. Namun begitu bertemu dengan anak-anak itu, energiku kembali lagi. Melihat mereka bermain dan berlari-larian di tanah berbatu. Mendengarkan ocehan mereka sambil berusaha menangkap kupu-kupu. Aku melihat mereka tertawa bersama tawa canda teman-temanku. Di situ energiku kembali perlahan.

Beberapa kali aku keluar rumah untuk berdoa sendiri di taman di dekat rumahku. Setiap kali ke taman itu, aku melihat selalu ada orang yang berdoa sambil menangis. Aku tak tahu apa masalah mereka, tapi aku percaya Tuhan pasti dengar. Doa di akhir bulan itu aku sampaikan di taman yang sama. Di tengah doaku, aku memutuskan untuk menengok lagi ke belakang hanya untuk bersyukur. Ketika itu pula aku dapat tersenyum dan berkata "Hey, ternyata bulan lalu tak seburuk itu ya?”

(Melihat kembali ke) bulan ketiga tahun dua ribu enam belas


Malu aku telah menghabiskan banyak air mata itu, padahal begitu banyak senyuman yang harusnya dapat aku bagikan bulan lalu. Ketika seorang demi seorang menjengukku dan membawakanku makanan, ketika aku kembali dekat dengan orang tuaku yang dulunya jauh, ketika aku dapat menghabiskan sarapanku bersama kakakku, ketika orang memelukku kembali, ketika teman lamaku meluangkan waktunya untuk video call. Tuhan menyelipkan berkat-berkat itu di dalam hidupku, tanpa aku sadari, bayang cobaan yang terjadi bulan itu justru menjadi pintu bagi orang-orang yang lama aku rindukan untuk hadir kembali. Mungkin selama ini aku terlalu menyibukkan diriku sendiri sehingga aku tak mensyukuri kehadiran dan kejadian - kejadian itu.

Aku seharusnya lebih banyak seperti anak-anak di dalam rumah rusak di kampung itu. Ketika hujan datang, mereka tetap dapat bergembira dan mencari jalan keluar untuk tetap tersenyum dan tertawa. Seperti anak-anak di desa itu, yang di dalam keterbatasan dan kemiskinan, mereka melihat keberartian dari senyuman dan kebahagiaan yang hadir dari hal-hal sederhana. Memaknai kata “bersyukur” tak cukup lewat kata-kata, namun cukup dengan sebuah senyuman. Tidakkah itu lebih sederhana?

Bulan keenam, tahun dua ribu enam belas. Bulan ini.


Tak cukup rasanya aku ingin menyampaikan semua ini untuk kalian, yang membantuku berdiri tegap dan bertahan. Terima kasih untuk tetap menggenggam tanganku dan mengajakku bangkit meski aku sangat rapuh. Bahkan untuk kamu, yang mengajarkanku banyak hal selama ini, bahwa ada hal yang harus berakhir, namun dapat berakhir dengan indah dalam pengampunan dan kasih yang Tuhan ajarkan. Dan untuk kamu semua, yang baru aku kenal, namun dapat menerimaku apa adanya, tertawa bersamaku dan tersenyum kepadaku.

Terima kasih, kamu semua. Terima kasih untuk kamu semua yang memberiku semangat dari dekat maupun jauh. Melalui berbagai cara, aku merasakan kasih dan makna persahabatan. Aku tak pernah merasakan kasih yang sebesar ini dari orang-orang di sekitarku. Terima kasih, semuanya. Terima kasih, semua teman-temanku. 

Titis sudah setrong lagi gengs!! 
#TitisSetrong nampaknya sudah dapat digunakan kembali :)

Akhirnya. Aku tak tahu apakah ku akan mengakhiri tulisan ini dengan benar atau tidak.

Why do bad things happen to good people?
I don't know.
But now I know, if something terrible happen to us,
if it is our turn, when something bad happen to good people,
look closer, the answer is near,
you’ll know what to do,
because love is everywhere,
and love will help you.


Ketika merasa kecewa, lihatlah langit, karena dia tidak pernah berdusta, 
bahwa meski hari ini mendung dan diakhiri dengan gelap, esok hari akan cerah lagi.


Xx,



T.


Comments

  1. Such a nice word Tis.. Bad things happen to good people to make 'this good people' better and wiser. And I find it in you..

    ReplyDelete
    Replies
    1. Thank you Ayuuuu :) Yes I agree, what doesn't kill you make you stronger, wiser, better. Anyway, you are one of the nicest person ever that I know too. Thank you for always sharing kindness on your path, even tho we do not meet as often anymore, I still can feel the kind heart that you have :)

      Delete

Post a Comment

Popular Posts